PORSEKA Perdana Nurul Ilmi Darunnajah 14

SERANG. Ni.Com. Tepat tanggal 20 September 2011 Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 menyelenggarakan Upacara Pembukaan Pekan Olah Raga Seni dan Pramuka untuk yang pertama kali. Dalam acara ini hadir 131 santri SMK Darunnajah dan -+ 200 santri MTs Darunnajah. Acara ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Serang. Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Ust Fajar Suryono, S.Kom. Diakhir Upacara ini dilaksanakan Penandatanganan Komitemen Bersama Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14.

Undangan PORSEKA Perdana Nurul Ilmi Darunnajah 14

SERANG. Ni.Com. Dengan ini kami mengundang segenap Pengurus, Dewan Guru, Santri Darunnajah Group dan seluruh wali santri, tokoh masyarakat dan Instansi terkait dengan SMK Darunnajah Pabuaran Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 untuk hadir pada agenda Pembukaan Pekan Olah Raga Seni dan Pramuka (PORSEKA)  perdana hari Selasa 20 September 2011 pukul 08.00 s.d 10.00 WIB di Lapangan Hijau Nurul Ilmi. Terima Kasih

Persiapan PORSEKA Perdana

SERANG. Ni.Com. Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 saat ini sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi agenda tahunan yaitu Pekan OLah Raga Seni dan Pramuka (PORSEKA). Kegiatan ini adalah kegiatan tahunan yang dilaksanakan pada awal Tahun Ajaran baru sebagai wadah untuk mengembangkan ketrampilan, pengetahuan dan kreatifitas para santri dan untuk lebih mengenalkan santri dengan Pesantren. Adapun persiapan agenda ini sudah dilaksanakan sejak sebelum liburan Ramadhan. Persiapan yang dilakukan meliputi Persiapan Tempat, Perlengkapan Acara dan penampilan-penampilan santri, dengan moto ” PORSEKA sebagai ajang gali potensi dan raih prestasi” Panitia dan seluruh santri Nurul Ilmi siap menggelar agenda akbar ini yang insyaAllah akan dilaksanakan pada hari Selasa 20 September 2011 di Lapangan Hijau Nurul Ilmi.

Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon Maaf Lahir Dan Batin


Kami segenap keluarga besar Pondok Pesantren Darunnajah mengucapkan: Selamat Idul Fitri 1432 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Amiin.

Agar lebaran kita menjadi lebih bermakna, ada baiknya kita mengetahui apa itu hakikat Hari Raya Idul Fitri dan bagaimana cara Rasulullah SAW menjalankannya.

Makna Ied:

Kata “ Ied “ berasal dari kata “ Al-‘aud “ yang artinya kembali karena ia berulang kembali dan datang dengan kegembiraan. Sedangkan dalam bahasa kita sering disebut dengan hari raya.

Islam dalam syariatnya hanya mengakui dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, ditambah hari raya mingguan yaitu hari Jumat sebagaimana ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau datang ke Madinah dan melihat mereka memiliki hari raya lain.

Adab-adab dalam hari raya:

1- Disunahkan mandi dan berpakaian paling bagus yang dimiliki pada hari raya:

Diriwayatkan dari Nafi’: (bahwa Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu dahulu biasa mandi pada hari Idul Fitri sebelum keluar ke tempat sholat) Atsar riwayat Imam Malik dalam Al-Muwatha’ dengan sanad yang shahih.

Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari kakeknya radhiallahu anhuma berkata: (Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakai pakaian burdah dari Yaman yang bercorak disetiap hari raya) HR Imam Syafi’e.

2- Disunahkan makan atau minum sebelum sholat Idul Fitri:

Diriwayatkan dari Anas radhiallahu anhu berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasanya tidak berangkat ke tempat sholat  hari raya sampai makan kurma dan Beliau makan dalam jumlah ganjil) HR Ahmad dan Bukhari. Dan ini pada waktu hari raya Idul Fitri.

3- Disunahkan tidak makan atau minum sebelum sholat Idul Adha sampai menyembelih hewan kurban:

Diriwayatkan juga dari Buraidah radhiallahu anhu berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berangkat ke tempat sholat Ied sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari raya Idul Adha sampai beliau pulang (dari sholat) lalu beliau makan dari sembelihannya) HR Ibnu Majah, Turmudzi dan Ahmad .

Muhallab berkata dalam hal ini: “ hikmah disunahkan makan sebelum sholat Idul Fitri supaya tidak ada sangkaan bahwa puasa masih wajib sampai sholat Ied, sehingga beliau ingin menutup pintu kesalahan ini “.

Ibnu Abi Hamzah berkata: “ ketika kewajiban berbuka datang setelah kewajiban puasa maka disunahkan menyegerakan berbuka sebagai wujud pelaksanaan perintah Allah Ta’alaa “.

Ibnu Qudamah berkata: “dan hikmah mengakhirkan makan sesudah sholat Idul Adha bahwa hari itu disyariatkan menyembelih hewan kurban dan makan dari sembelihannya, maka disunahkan pertama kali berbuka dari sembelihannya “.

4- Disunahkan mengeluarkan seluruh kaum muslimin pada hari raya termasuk wanita:

Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah radhiallahu anha berkata: (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan wanita-wanita pada hari raya Idul Fitri dan Adha yaitu wanita-wanita baligh, haidh dan sedang dipingit , adapun wanita-wanita yang haidh mereka menjauhi tempat sholat) dalam lafal lain (menjauhi tempat sholat dan menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin, maka aku berkata : wahai Rasulullah sebagian kami tidak memiliki jilbab , Beliau berkata : hendaklah sebagian kalian meminjamkannya untuk saudaranya) HR Bukhari dan Muslim dan yang lainnya.

Imam Syaukani berkata: “hadits tersebut dan semacamnya menjelaskan disyariatkannya mengeluarkan wanita dalam dua hari raya ke tempat sholat tanpa membedakan antara gadis atau yang menikah, yang masih muda atau lansia, yang haidh atau tidak, kecuali yang sedang dalam keadaan iddah atau karena adanya fitnah atau yang sedang dalam uzur”.

Namun tempat wanita terpisah dari laki-laki sehingga tidak terjadi ikhtilath yang menyebabkan fitnah sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu : (….ketika Rasulullah selesai memberi nasihat kepada kaum pria beliau turun minbar lalu mendatangi wanita dan mengingatkan mereka)HR Muslim.

Imam Syaukani berkata: “dalam hadits ini menunjukkan adanya pemisahan tempat untuk wanita apabila mereka menghadiri perkumpulan laki-laki karena ikhtilath merupakan sebab fitnah yang ditimbulkan karena melihat dan lainnya “.

5- Disunahkan mendatangi tempat sholat dengan berjalan kaki :

Apabila tempat sholat bisa dijangkau dengan berjalan kaki maka disunahkan mendatanginya dengan berjalan kaki sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu anhu berkata : (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa keluar ke tempat sholat Ied dengan berjalan kaki dan pulang juga berjalan kaki) HR Ibnu Majah dan dishahihkan Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ nomor :4932.

6- Disunahkan melalui jalan berbeda ketika pergi dan pulang dari sholat Ied:

Diriwayatkan dari Jabir radhiallahu anhu berkata: (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ke tempat sholat Hari Raya beliau biasa melewati jalan berbeda ketika pergi dan pulang) HR Imam Bukhari.

Hadits ini dan yang semacamnya menunjukkan disunahkan pergi ke tempat sholat Ied melalui jalan yang berbeda ketika pulang baik untuk Imam maupun Makmum dan ini pendapat kebanyakan ulama seperti dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

Dan hikmah membedakan jalan pergi dan pulang sebagaimana dikatakan Al-Munawi dalam Faidhul Qadir: (supaya selamat dari gangguan orang yang ada dikedua jalan tersebut, atau untuk keberkahan, atau untuk memenuhi hajat pada kedua jalan itu, atau untuk menampakkan syiar Islam pada keduanya, atau supaya membuat marah orang-orang munafik yang ada dikedua jalan itu).

Ibnu Qayyim menambahkan: (yang paling benar adalah untuk semua hikmah yang disebutkan atau yang lainnya).

7- Disunahkan bertakbir pada hari raya dengan jahar dijalanan dan tempat sholat sampai imam keluar :

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu anhu: (bahwa apabila berangkat ke tempat sholat beliau bertakbir yaitu bertakbir dengan suara keras).

Dalam riwayat lain: (beliau berangkat ke tempat sholat pada hari raya apabila matahari telah terbit lalu bertakbir sampai mendatangi tempat sholat lalu bertakbir ditempat sholat sampai ketika imam telah duduk beliau berhenti bertakbir ) Keduanya riwayat Imam Syafi’ie dan dishahihkan dalam Shahih Al-Jami’ nomer : 4934.

Berkata Al-Munawi dalam Faidhul Qadir: (beliau keluar pada saat dua hari raya ketempat sholat yang ada pada gerbang timur Madinah yang berjarak seribu hasta dari pintu masjid).

Berkata ibnu Syaibah: berkata Ibnu Qayyim : beliau tidak pernah sholat Ied di masjidnya kecuali sekali karena hujan bahkan beliau selalu melakukannya di lapangan. Dan menurut mazhab Hanafi : bahwa sholat di lapangan lebih utama dari di masjid, dan berkata Malikiyah dan Hanbaliyah : kecuali di Mekah. Dan berkata ulama Syafiiyyah : kecuali di tiga masjid lebih utama karena keutamaan ketika masjid tersebut.

Sifat takbir :

Berkata Imam Syaukani dalam Nailul Authar : adapun sifat takbir maka riwayat yang paling shahih yang dikeluarkan Abdur Razaq dengan sanad yang shahih dari Salman berkata : “ bertakbirlah Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar

Dan diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dan Mujahid dan Abdur Rahman bin Abi Laila dikeluarkan AL Firyani dalam kitab “Iedaini” juga pendapat Imam Syafi’ie dengan tambahan : Walillahil hamdu.

Dalam riwayat lain: bertakbir tiga kali dan menambah Laa Ilaaha Illa LLah wahdahu Laa Syariika lahu …

Dalam riwayat lain : bertakbir dua kali dan setelahnya Laa Ilaaha Illa LLah waLLahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu, diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan dipegang oleh Imam Ahmad dan Ishaq.

Adapun dizaman ini ada beberapa tambahan dalam lafaz takbir yang tidak ada asalnya. Wallahu a’lam.

(voa-islam)

Khutbah Idul Fitri 1432 H: Puasa Ramadhan Menghadirkan Generasi Yang Peduli dan Rabbaaniy, bukan Ramadhaniy

الله أكبر عدد ما ذكر الله ذاكر وكبر.

الله أكبر عدد ما صام صائم وأفطر.

الله أكبر عدد ما فرح طائع واستبشر.

الله أكبر عدد ما استرجع مذنب وتذكر.

الله اكبر عدد ما تاب تائب واستغفر.

الله أكبر عدد ما تلا قارئ للقرآن وتدبر.

الله أكبر عدد ما فاح ذكر الله بالألسن وتعطر.

سبحان الله والحمد لله, و لا إله إلا الله الله أكبر.

الحمد لله الكريم المنان, المتفضل بالإحسان على الدوام, شرع الشرائع وأحكم الأحكام, أحمده من علينا بمنن لم يعطها قبلنا من الخلائق والأقوام, فكتابنا القرآن خير كتبه وأحسنها تفصيلا وإحكام, ونبينا سيد ولد آدم, ورسول الثقلين الأنس والجان, أتم علينا النعمة بالصيام وأباح لنا الفطر اليوم إيذاننا بعيدنا أهل الإسلام, وأصلي وأسلم على النبي المصطفى والرسول المجتبى سيد ولد عدنان, من صلى وصام وأحسن وقام صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أولي النهى والإقدام .

أما بعد فأوصيكم أيها الناس بتقوى الله فإن من اتقى الله وقاه, ومن توكل عليه كفاه.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Segala Puji hanya milik Allah

Ilustrasi – Ramadhan (inet)

dakwatuna.com – Ketika pada hari ini sebagian besar umat Islam di berbagai pelosok dunia, kembali mengumandangkan takbir dan tahmidmemuji kebesaran dan karunia Allah SWT, sesuatu yang kembali menyemangati umat Islam untuk sadar akan jati diri mereka sebagai hamba Allah yang utama, yang mempunyai komunitas yang sangat besar di dunia, dan berkemampuan untuk melaksanakan syariat Allah dan sunnah Rasulullah SAW selama satu bulan penuh, berpuasa di siang hari dan bershalat tarawih di  malam hari, sudah sangat selayaknya bila yang hadir dalam hati nurani, suluk/prilaku, apalagi pengucapan dari kita semuanya adalah syukur yang tiada terhingga atas karunia Allah SWT yang sangat besar itu. Apalagi kita juga sangat menyadari bahwa karunia-karunia itu di satu pihak masih belum dirasakan maksimal oleh sebagian saudara Muslim kita, terbukti masih banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi di siang hari kemudian masih secara terbuka tidak melaksanakan puasa, atau berpuasa tapi prilakunya tetap menunjukkan jati diri tidak berpuasa, sementara di pihak yang lain kita meyakini bahwa karunia-karunia itu sungguh sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas iman, menjaga kontinuitas ibadah, baik yang berkaitan dengan memakmurkan masjid maupun juga pembacaan Al-Qur’an, serta dampak-dampak positif lainnya dalam beragam kehidupan seperti kesehatan, sosial dan keamanan, sekali lagi kita sangat berharap bahwa karunia ini berkelanjutan, karena kita sangat yakin apa yang Allah tegaskan dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)

“Dan ingatlah tatkala Rabbmu memaklumkan: “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (bi’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim:7)

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Agustus tahun ini memang istimewa, apalagi bila dikaitkan dengan kehidupan sebagai bangsa Indonesia, karena ia melanjutkan tradisi-tradisi kemenangan yang begitu fenomenal dalam sejarah umat Islam seperti kemenangan pada peristiwa Badr Kubra yang disebut Yaumul furqaan, Fath Makkah, Fath Andalus (masuknya Islam ke Andalusia), dikalahkannya agresi Mongol oleh Saefuddin Qutuz, dan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, negara yang merupakan negara Muslim terbesar di dunia, dari penjajahan asing, baik Belanda maupun  Jepang, yang dilaksanakan tanggal 9 Ramadhan tahun 1364 H yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945. Semoga karenanya kemerdekaan ini juga menghadirkan keberkahan bagi Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa dunia, sebagaimana keberkahan Bulan Ramadhan yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai bulan berkah.

أتاكم شهر رمضان شهر مبارك فرض الله عليكم صيامه تفتح فيه أبواب الجنة ، وتغلق فيها أبواب الجحيم…

“Bulan Ramadhan telah menghampiri kalian yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka jahim ditutup…” (HR. An-Nasaai)

Betapa kemerdekaan adalah karunia yang besar dan nikmat yang harus disyukuri. Mudah kita bayangkan, bila kita memperhatikan nasib saudara-saudara kita kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang sampai hari ini masih harus berjuang dengan segala luka dan dukanya, seperti saudara-saudara kita di Palestina, di Kosovo dan lain-lainnya, semoga Allah selalu menguatkan mereka dan menyatu padukan langkah perjuangan mereka serta membukakan mata hati dunia untuk mengakui kemerdekaan mereka.  Ada juga negara yang sudah lama merdeka, tetapi gagal  untuk mengisi dan menjaga kemerdekaannya, karena konflik  destruktif berkepanjangan seperti Somalia dan Libya. Alhamdulillah, Indonesia sudah merdeka dan secara prinsip tetap dapat menjaga kemerdekaannya. Terasa istimewa juga karena 17 Agustus kali ini bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan hari diperingatinya Nuzulul Qur’an, suatu peristiwa langka yang mungkin hanya berbarengan satu kali dalam satu abad, maka dalam konteks kita ummat Islam yang ingin mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, yang salah satu di antaranya adalah Rasulullah SAW di Bulan Ramadhan ini memperbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an, tentulah kita sangat berharap bahwa kemerdekaan yang diyakini oleh para Founding Fathers negeri ini sebagai sesuatu yang terjadi atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana tercantum dalam alinie ke tiga Pembukaan UUD Republik Indonesia Tahun 1945, tentulah sudah sangat semestinya bila umat Islam pemilik sah negeri ini yang juga sudah sangat terlibat dalam menghadirkan dan menjaga proklamasi kemerdekaan NKRI, untuk dapat mengisi kemerdekaan kita dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan disunnahkan oleh Rasulullah SAW, sesuatu yang mestinya mudah kita laksanakan karena di satu pihak ummat Islam telah menginternalisasi nilai-nilai kebajikan Al-Qur’an dan As-sunnah itu selama satu bulan penuh, dan terbukti tiada satu pun nilai Islam yang merugikan kepentingan kehidupan keummatan maupun kebangsaan, tidak satu pun tindakan terorisme, korupsi, perusakan lingkungan, dekadensi moral, pengabaian kaum dhuafa yang dibenarkan oleh Al-Qur’an maupun As-sunnah, sebaliknya nilai-nilai Al-Qur’an dan As-sunnah yang telah mereka internalisasikan seperti: mementingkan realisasi akhlakul karimah, silaturahim, peduli dengan sesama terutama para dhuafa dan masaakin serta para yatim, taat kepada ajaran Al-Qur’an dan As-sunnah yang mengharamkan prilaku-prilaku negatif tersebut di atas, berorientasi untuk mewujudkan manusia yang aktif, produktif dan konstruktif berbasiskan nilai- nilai takwa, nilai-nilai yang justru sangat diperlukan dalam rangka menguatkan pilar-pilar kehidupan kita sebagai ummat dan bangsa yang merdeka, berdaulat dan beradab.

Bulan Ramadhan juga telah mengajarkan kepada kita tentang pembiasaan dari berbuat dan berperilaku baik, satu bulan lamanya kita mengamalkan beragam sifat dan sikap positif, yang terakhir-terakhir ini semakin dirasakan keharusannya untuk dihadirkan, saat banyak pihak masih terus terjadinya  korupsi yang merefleksikan adanya ketidakjujuran dan kelemahan dalam penegakan hukum. Dengan melaksanakan ibadah shiyam selama satu bulan Ramadhan, mengajarkan kepada kita bahwa ternyata berlaku juga dan keberanian serta ketegasan dalam  penegakan hukum dan melaksanakan syariat Allah dan Sunnah Rasul-Nya ternyata bisa kita lakukan padahal untuk melaksanakan ibadah shiyam dan qiyam itu, kita harus merubah secara  revolusioner kebiasaan hidup kita, yang selama ini siang hari kita menyantap makanan dan minuman dan malam hari kita beristirahat, kita pun demi melaksanakan hukum Allah dan Rasul-Nya, telah berani dan tegas dan jujur merubah siang kita tidak untuk makan dan  minum, dan malam kita tidak untuk istirahat melainkan untuk beragam aktivitas seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, Qiyamullail, sahur dan seterusnya.

Satu bulan lamanya kita telah ditraining oleh Allah dan Rasul-Nya dengan melaksanakan  ibadah shiyam dan qiyam. Dan bila kita lulus, dan seharusnya memang demikian, sebab tentu kita tidak ingin menjadi kelompok yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai yang tidak mendapatkan apa-apa dari  puasa, padahal dia sudah berlapar-lapar dan berdahaga-dahaga. Sekali lagi, semoga kita lulus mengikuti training Allah dan Rasul-Nya tersebut, sehingga dengan demikian kita telah membiasakan diri untuk berbuat dan berlaku yang baik, yaitu bersifat dan berlaku jujur dan berani menegakkan hukum, bahkan berani untuk peduli pada dhuafa, fuaqaara dan masaakiin, dengan silaturahim, infak, zakat fitrah dan zakat mal, sebab untuk bisa berbuat dan berlaku positif pun perlu pembiasaan seperti yang dulu pernah diingatkan oleh sahabat Rasulullah SAW yang terkemuka Abdullah bin Mas’ud RA:

تعودوا الخير, فإن الخير بالعادة

“Biasakannya berbuat baik, sebab untuk dapat kontinu berbuat baik diperlukan pembiasaan”

Subhanallaah, bila sudah demikian, tentulah wajar kita umat Islam Indonesia, akan kembali melakukan perah sejarah yang sangat penting untuk menyalurkan api harapan dan semangat mengisi kehidupan dan kemerdekaan agar merdeka dari kegelapan korupsi, ketidakpedulian, kemiskinan dan kezaliman-kezaliman yang lainnya, karena memang begitulah risalah hidup Muslim.

يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Dia-lah (Allah) yang mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya…” (Al-Baqarah: 257)

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Bila demikian halnya, maka sudah sangat semestinya bila ummat Islam pun mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar beragam capaian keunggulan yang telah mereka internalisasikan dengan ibadah selama satu bulan Ramadhan itu dapat terus dilanjutkan pada bulan-bulan sesudah bulan Ramadhan, agar apa yang mereka lakukan itu bisa menjadi modal besar dan bisa dikembangkan, selain dari bahwa salah satu tujuan dari disyariatkannya ibadah puasa di Bulan Ramadhan yaitu untuk merealisasikan nilai-nilai takwa yang diungkapkan dengan ungkapan la’allakum tattaquun, ungkapan yang mempergunakan fiil mudhari kata kerja yang bersifat jamak untuk hari ini maupun yang akan datang, untuk sesuatu yang bersifat inovatif dan berkelanjutan, juga karena bangsa Indonesia sungguh sangat akan diuntungkan bila nilai-nilai tersebut memang dapat dilanjutkan pada bulan-bulan di luar Ramadhan, apalagi bila dikaitkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ , dan sejak ayat pertama dari ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepada Muhammad SAW telah memberikan sebuah panduan kehidupan yang sangat gamblang dengan adanya keharusan untuk memahami dan mengisi kehidupan dengan  nilai-nilai yang islami, yaitu ketika cara pandang yang sekularistik sejak jadi awal telah dikoreksi oleh wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah SWT, yaitu ketika Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan untuk iqra saja atau bismi rabbika saja tanpa dikaitkan secara langsung satu dengan keduanya, sebab bila memang keduanya dipisahkan akan menghadirkan cara pandang dan prilaku kehidupan yang sekularistik yang akan menghadirkan anomali dalam kehidupan seperti melakukan puasa tapi prilakunya tetap korupsi dll. Itulah karenanya Allah pun menggabungkan keduanya sekaligus dengan ungkapan perintahnya yang sangat jelas اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  dan kemudian diulangi lagi dengan ungkapannya اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ.

Karenanya dalam konteks dan teks Al-Qur’an, prilaku tersebut bukan sekadar informatif, yang boleh diimani atau diingkari, tetapi bersifat imperatif, perintah, yang harus dilaksanakan, seperti kita melaksanakan shalat, zakat dan puasa, karena adanya perintah untuk itu semua.

Hal ini penting untuk disegarkan kembali agar kita nyaman untuk melanjutkan capaian-capaian positif ibadah kita selama satu bulan Ramadhan untuk bisa dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya setelah bulan Ramadhan, dan sesungguhnya dengan pendekatan tersebut di atas maka kita semakin yakin bahwa Allah yang kita sembah selama bulan Ramadhan itu juga Allah yang kita sembah dan mestinya ditaati di bulan-bulan sesudah Ramadhan, Rasulullah yang sunnahnya yang begitu semangat kita mengikutinya, itu jugalah tauladan kita di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan, apalagi Al-Qur’an panduan kehidupan kita yang kita baca selama bulan Ramadhan sesungguhnya juga adalah Al-Qur’an yang sama yang dibaca dan diamalkan oleh para Sahabat sehingga menghadirkan masyarakat yang khair ummah yang rahmatan lilaalimin, yang sesungguhnya juga adalah sama dengan yang kita miliki dan selalu juga kita baca di bulan-bulan setelah bulan Ramadhan. Sehingga dengan demikian maka sangat diharapkan bahwa dengan hadirnya bulan Ramadhan itu akidah semakin kokoh dan kuat sehingga hadirlah generasi yang selalu peduli untuk menghadirkan kontribusi yang bermanfaat bagi ummat serta solusi yang inovatif bagi beragam problema yang sudah akut di tengah masyarakat, baik problem masyarakat, moral, sosial, ekonomi, karena yang akan hadir adalah generasi yang rabbani, yang selalu bisa merealisasikan aktivitas-aktivitas takwanya di sepanjang bulan sesudah bulan Ramadhan, bukan sekedar generasi ramadhani yang hanya saleh pada bulan Ramadhan, tetapi salah karena hanya mencukupkan diri untuk menjadi saleh selama bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan mereka membiarkan diri kembali dikalahkan oleh setan, yang berwujud jin maupun manusia yang jahat, dan kemudian jauh dari nilai-nilai rabbani.

اللَّهُ أَكْبَر ُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّه الْحَمْدُ

Hadirin Sidang Shalat Idul Fitri Yang Dirahmati Allah

Ketika pada hari-hari sebelum Idul Fitri ini kita menyaksikan saudara-saudara kita ada yang berangkat maupun pulang umrah, dan sebagian yang lain akan segera ulangi tradisi tahunan pulang kampung, dengan semangat generasi rabbaaniy ini kita sangat berharap ada nilai-nilai kebajikan dan kesalehan yang mereka dapatkan baik di Makkah di Madinah maupun di kota-kota di mana mereka tinggal kemudian dapat ditularkan kepada saudara-saudara kita di kampung-kampung maupun di desa-desa maupun di tempat-tempat keluarga tujuan yang lainnya, sekalipun demikian tetap juga dalam semangat kalau kita akan kembali kepada fitrah kita, asal-usul kita yang sangat mungkin itu adalah kampung halaman kita, maka sangatlah mungkin kita pun berharap bahwa kita akan mendapatkan kembali kearifan esensial yang masih membudaya di kampung halaman kita, semangat gotong royong, silaturahim, cinta lingkungan, saling menghormati dan saling berbagi, dan lain-lain, sangat mungkin itu bagian dari yang secara lapang dada harus kita adopsi dan terima kembali, agar kita semuanya baik yang pulang umrah atau pulang kampung maupun yang akan menerima kita semuanya di kampung-kampung atau tempat tujuan lainnya akan semakin mendapatkan keuntungan dari internalisasi dari nilai-nilai Ramadhan yang betul-betul akan menguatkan solidaritas di antara kita di tengah berbagai krisis yang masih melanda, menguatkan ukhuwah kita ketika ada banyak usaha untuk mengadu domba di antara ummat Islam, dan menghadirkan izzah kita sebagai ummat dan bangsa Indonesia di tengah apatisme dan ketidakpercayaan diri sebagai bangsa karena masih terulangnya beragam tragedi penegakan hukum maupun permasalahan baik sosial maupun ekonomi. Itulah yang dulu secara kreatif para ulama kita telah mewariskan suatu ungkapan yang khas Indonesia: minal aadin wal faaizin, satu doa dan kepercayaan diri bahwa kita bisa kembali menjadi manusia yang bermartabat, menjadi ummat yang bermartabat, untuk menghadirkan bangsa yang bermartabat yang karenanya kita bisa menjadi manusia dan bangsa yang menang dengan mengalahkan beragam bujuk rayu setan yang berbentuk jin maupun manusia yang akan menghadirkan kehancuran bagi masa depan kita sebagai pribadi maupun ummat dan bangsa, dan menghilangkan esensi kemerdekaan yang kemarin baru saja diproklamasikan, agar negeri ini betul-betul menjadi negeri yang بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ karena ummatnya adalah ummat yang terbaik, karena orientasi kehidupan mereka terus menyebarkan rahmat di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan setelah Ramadhan di sepanjang tahun kehidupan ummat manusia, karena memang mereka bukan generasi yang Ramadhan saja, tetapi mereka adalah generasi yang rabbaaniy.

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)

“Namun demikian (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbaaniy, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”(Al-‘Imraan: 79).

Dan agar apa yang menjadi kepedulian kita ini bisa mudah diwujudkan, maka sudah sewajarnya kita selalu berdoa memohon kepada Allah, Dzat yang maha mengabulkan doa, agar Allah memberikan kita kekuatan untuk bisa mengalahkan beragam halang rintang, sehingga kehadiran kita akan menjadi rabbaaniyyuun yang sungguh-sungguh dan bukan sekadar ramadhaaniyyiin saja.

Mari kita menengadah tangan, mengkhusyu’kan hati dan menutup khutbah ini dengan berdoa bersama:

َللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

“Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zalim dan kafir.”

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

“Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.”

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

 

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.”

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.”

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(Khutbah Idul Fitri, 1 Syawal 1432 H, Disampaikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Oleh Dr. Hidayat Nur Wahid, MA)

Meraih Puncak Prestasi di Bulan Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian berpuasa, sebagaimana juga telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Al-Baqarah 183).

Suatu ketika direktur perusahaan di tempat anda bekerja memanggil anda ke kantornya. Ia memberitahukan bahwa berkat prestasi kerja anda selama ini, anda akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang prestisius. Namun dengan satu syarat, pekan depan anda harus mengikuti seleksi kerja satu bulan penuh. Seleksi yang setelah anda tanyakan ternyata relatif ringan bahkan dengan bonus yang menggiurkan. Bagaimana tidak hanya dengan melakukan kerja yang standar anda akan dapat bonus 10 kali lipat bahkan sampai 700 kali lipat. Ternyata itu belum seberapa, anda pun dijanjikan jika berhasil melewati seleksi tahap akhir dengan predikat sangat memuaskan maka anda akan diberikan jaminan kebutuhan hidup selama 83 tahun lebih. Wow! Sangat menggiurkan.

Anda pun jelas, sangat menunggu-menunggu waktu itu tiba, anda begitu hanyut dalam kerinduan penantian. Anda merasa waktu berjalan sangat lamban, lebih lamban dari siput di pinggir sawah pak tani. Anda heran melihat jarum jam seolah berdetak malas-malasan, padahal baterainya baru anda ganti dua hari kemarin. Aaah…

Pun perbekalan telah anda siapkan sepulang dari kantor direktur anda, bahkan telah anda cek berulang-ulang khawatir ada yang terlewat dari catatan anda. Skill kerja anda yang telah lama menjadi decak kagum partner kerja anda, makin anda asah jauh lebih berkilat daripada zamrud dari India sekalipun. Bahan-bahan dan petunjuk kerja telah anda pelajari berulang-ulang, bahkan istri anda mengira anda telah jatuh hati pada buku-buku itu dan menjadikannya istri muda anda. Amboi, kerinduan memang memabukkan.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Kiranya sudah mulai pahamkah anda akan saya bawa ke mana arah cerita ini? Tentu sebagai muslim yang cerdas anda akan sontak menjawab “Inilah Ramadhan yang akan kita jumpai saat ini.”

Ya, inilah Ramadhan. Bulan yang selain gaji tetap, akan didapatkan juga bonus 10 hingga 700 kali lipat bahkan bisa jauh lebih besar daripada itu. Bahkan jika prestasi seleksi amalan di bulan ini konsisten sampai akhir, maka bonus pahala 1000 bulan (83 tahun lebih) bisa anda raih.

Bulan yang telah Allah informasikan kepada anda 1500 tahun yang lalu, tidak seperti direktur anda yang memberikan informasi hanya sepekan sebelum hari H. Jelas sekali persiapan dan perbekalan anda akan jauh lebih paripurna. Aneh nian, jika anda masih ragu dan gagap saat Ramadhan tiba padahal anda punya waktu 11 bulan untuk bersiap-siap menyambutnya. Bahkan anda sudah mengetahuinya sepanjang hayat anda.

Lihatlah para shahabat Rasulullah SAW, manusia-manusia langit itu luar biasa gembira menyambut Ramadhan dan luar biasa pilu ditinggal Ramadhan. Mereka berharap setahun itu bulannya adalah Ramadhan semua. Layaknya anda yang begitu meluap kegembiraan saat bulan seleksi itu tiba menghampiri anda. Kegairahan memuncak untuk menelusuri satu ibadah yang Allah berkenan memberikan pahala melimpah-ruah secara langsung.

Allah menyeleksi manusia, kira-kira manusia macam apakah yang akan sanggup melaksanakan aturannya yang ini. Ternyata Allah mengatakan “Wahai orang-orang yang beriman”, duhai berbahagialah orang yang beriman kepada Allah karena mereka lulus seleksi, yang bukan hanya mengaku Islam, karena predikat muslim saja tidak cukup layak mengikuti lomba super hebat di bulan Ramadhan. Mereka tidak akan mampu, akan kepayahan…

Mereka, yang hanya Islam saja, sebagaimana sudah Rasulullah ingatkan “Betapa banyak orang yang shaum namun tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.”

Mereka tidak tahan untuk tidak makan minum, tidak tahan untuk konsisten shalat tarawih, tidak tahan berlama-lama membaca Al-Qur’an, tidak tahan untuk tidak mencaci orang lain, tidak tahan berbaik sangka kepada orang lain, tidak tahan untuk membatasi apa yang dia makan saat berbuka dan tidak tahan untuk tidak berhura-hura saat malam ‘Idul Fitri, padahal itu berpotensi menghapus seluruh pahala Ramadhan yang susah payah ia kumpulkan.

Memang nyata, kita belum seperti para shahabat Rasulullah SAW, mungkin anda atau saya bahkan merasa biasa-biasa saja dengan datangnya Ramadhan. Atau yang lebih celaka, justru khawatir dan takut menjalani Ramadhan. Na’udzubillah. Yang menyambut gembira Ramadhan adalah orang beriman, yang menyambut dengan ekspresi datar agak berat mungkin fasik, yang malah takut dan khawatir bisa jadi munafik atau bahkan kufur.

Baiklah, ternyata bagi yang merasa berat, Allah telah sebutkan bahwa kewajiban shaum itu “telah diwajibkan juga kepada orang-orang sebelum kalian,” kalau umat-umat terdahulu saja sudah diwajibkan shaum lalu kenapa kita harus merasa berat seolah-olah hanya kita saja yang diberikan ‘beban’. Maka bagi siapa saja yang merasa terbebani oleh kewajiban shaum, sungguh ia hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja tanpa mendapatkan saripati dari ibadahnya sedikitpun. Sia-sia!

Orang yang beriman dan bersabar tanpa terbebani akan dengan mudah mendapatkan saripati ibadah shaum Ramadhan sebagaimana target shaum itu sendiri yakni “supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa,” kata Allah. Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa.

….Takwalah puncak prestasi keimanan tertinggi, yang Allah tegaskan bahwa insan paling mulia di sisi-Nya adalah insan yang bertakwa…

Takwa adalah konsistensi iman dan amal shaleh. Seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah: “Nasihatilah aku yang tidak akan aku minta lagi kepada orang lain.” Rasul menjawab: “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu konsistenlah kamu dalam keimanan itu.” Iman plus konsistensi adalah takwa. Maka ciri orang yang sukses meraih predikat takwa dari ibadah Ramadhan adalah konsistensi ibadahnya di bulan-bulan lain sama seperti yang dilakukannya di bulan Ramadhan.

Shaum Ramadhan adalah start bukan final, adalah awal bukan akhir dari perjalanan ibadah sepanjang hayat kita. Maka tidak ada hari kemenangan bagi yang melaksanakan ibadah Ramadhan dengan biasa-biasa saja, yang asalkan tidak makan, minum dan bersenggama. Sementara hewan pun jika hanya sekedar itu mampu melakukannya.

Shaum Ramadhan adalah ibadah yang berfungsi sebagai charger untuk on-nya ibadah di sebelas bulan berikutnya. Adalah mengerikan, orang berduyun-duyun di akhir Ramadhan merayakan hari kemenangan, sementara mereka sudah tidak lagi berpuasa. Kembali ke kulit palsunya yang mereka tahu bahwa itu palsu. Memang benar, orang paling bodoh adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu namun sok tahu seolah-olah dirinya tahu. Benarlah, hanya yang beriman dan bersabar (ihtisaban) dalam ibadah Ramadhan lah yang akan diampuni dosa masa lalunya.

Kemenangan sebenarnya dari Ramadhan ditentukan oleh sebelas bulan berikutnya. Tarawihnya di bulan Ramadhan berlanjutkah dalam tahajud di bulan berikutnya, tilawah Qur’annya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, zakatnya di bulan Ramadhan berlanjutkah di bulan berikutnya, dermawan dan pemaafnya di bulan Ramadhan berlanjutkah atau kembali menjadi bakhil dan pemberang selepas bulan itu?

Jika hal-hal di atas tidak terwujud, jangan salahkan jika ibadah kita tidak membawa dampak positif. Allah sendiri mencela orang shalat sebagai pendusta agama, yang shalat dalam keadaan lalai. Saat seharusnya shalat membuahkan proteksi atas perbuatan keji dan mungkar, namun anda, saya dan kita masih menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin.

Bahkan Ramadhan kita kali ini, seharusnya tidak lagi menyantuni orang miskin yang sama, yang dulu kita serahkan zakat kita kepadanya. Tidak lagi, karena orang miskin itu tidak mau menerimanya, ia telah merasa mampu dari hasil pemberdayaan ekonomi melalui zakat kita di Ramadhan sebelumnya.

Mampukah Ramadhan kita kali ini membuahkan hasil, paling tidak membuat petugas pembagi zakat menangis tersedu-sedu karena mereka ditolak dari pintu ke pintu, sebagaimana petugas pembagi zakat di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz. Semua menutup pintunya karena telah berdaya, harga dirinya terangkat untuk tidak terus menerus mengulurkan telapak tangan.

Sayangnya kita belum, bahkan kita secara tidak langsung melestarikan kemiskinan. Betapa tidak, kita berzakat ke orang yang sama selama bertahun-tahun. Membuat mereka haqqul yaqien bahwa zakat adalah rezeki pokoknya tanpa harus berpeluh-peluh.

Marilah kita maksimalkan seluruh kemampuan kita; mental, fisik, ilmu dan harta untuk ibadah di bulan Ramadhan yang mungkin kita tidak akan menjumpainya lagi di tahun depan.

Allahumma sallimnaa Ramadhan, wa sallim Ramadhana lanaa mutaqabbalan

Sumber

Matematisasi Pahala Ramadhan

Setiap manusia, tatkala beribadah dan beramal tentu tidak pernah luput dari tujuan ingin mendapat pahala. Seberapa besar pahala itu, bergantung pada bagaimana ibadah dan amal itu dilakukan. Bagaimana kulaitas amal serta ibadah dan berapa kuantitas ibadah dan amal yang kita kerjakan. Bahkan juga tergantung pada tinggi rendahnya kepayahan (masyaqah) dalam melaksanakannya.

Bagi umat Nabi Muhammad, Saw ada satu anugerah yang sangat besar –dan tidak diberikan kepada umat sebelumnya- yaitu berupa anugerag satu bulan (Ramadhan) yang di dalamnya banyak keistimewaan dibandingkan dengan bulan lainnya. Bahkan Rasulullah Saw. Menyampaikan bahwa “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam bulan Ramadhan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan”.

Betapa kayanya Allah dan betapa murahnya Allah SWTt. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim)

Kalau dilihat dari logika matematika, kita akan dapat menghitung berapa jumlah pahala, jika kita beramal. Di bulan biasa beramal Rp 1.000  Allah ganti dengan Rp  10.000, maka pada bulan Ramadhan  Allah akan mengganti dengan Rp 70.000. Artinya jika di surga Allah kita berharap mendapat rumah mewah seharga Rp 1 milyar maka kita cukup beramal Rp 100 juta di luar bulan Ramadhan atau cukup hanya beramal Rp 14,3 juta rupiah di bulan Ramadhan.

Bayangkan jika umat tahu – dalam arti yakin dengan seyakin-yakinnya akan janji Allah ini – maka tidak akan ada satupun dari mereka yang rela melewatkan satu detik dan menitpun bulan Ramadhan kecuali untuk dijadikan ibadah dan amal.

Perumapaannya, jika dalam satu mal dan swalayan ada diskon 50 persen dengan kualitas barang sama dengan barang yang tidak didiskon dan bukan barang cuci gudang, maka pasti banyak yang datang mengunjungi mal tersebut. Lalu bagaimana dengan diskon sampai 98,5 persen lebih, umpamanya kita mau beli motor seharga 15 juta, kita cukup menyediakan uang Rp 15juta:70 maka uang yang harus ada Rp  214.286 saja.

Dan, diskon Allah ini berlaku sepanjang  Bulan Ramadhan.

Maka wahai manusia yang beriman, marilah kita isi bulan Ramadhan ini dengan ibadah dan amal yang terbaik. Agar kita bisa memanfaatkan diskon Allah yang terbesar sepanjang tahun ini. Wallahu a’lam. Diambil dari materi Hikmah : http://www.republika.co.id