Guru Pesantren ; The Unsung Hero

by: Nashrulloh ZM Zarkasyi

Pagi buta, sebelum seorang pun di pondok menggantikan pakaian sarungnya dengan celana panjang dan kemeja, mereka sudah mempersiapkan diri segala perlengkapan kantor Kulliyyatu-l- Mu’allimin al-Islamiyah (KMI): mengecek absensi siswa, mengontrol suasana kelas, atau alat-alat kelengkapan direktur lainnya. Saat matahari telah menampakkan diri, kala teman-teman guru lain telah berdasi dan menyerbu dapur untuk sarapan, sebelum masuk kelas, mereka pun telah berdiri di beberapa tempat, di sudut-sudut pondok sambil mengawasi santri yang tengah menuju kelas masing-masing

Pukul tujuh tepat, pelajaran pun dimulai. Namun, para pendekar itu masih saja bekerja. Kali ini, selain yang masuk kelas untuk mengajar, ada yang mempersiapkan rapat-rapat bagian di bawah struktur kelembagaan KMI, atau mempersiapkan map-map untuk guru senior yang akan melakukan supervisi pelajaran di kelas-kelas dan untuk beberapa pelajaran yang telah ditentukan. Yang lain lagi dan mengkoordinasi guru-guru yunior mengecek ruang-ruang kelas yang kosong dan asrama santri. Pada kali lain, pekerjaannya juga mengecek kebersihan kelas-kelas. Rutinitas itu dilakukan dengan sangat cermat dan juga dengan keikhlasan yang tinggi. Mereka menikmati tugasnya.

Yang tak kalah susah, dalam waktu super singkat, di masa liburan baik pertengahan maupun akhir tahun, mereka harus menyusun jadwal mengajar guru untuk semester berikutnya. Bayangkan, lebih dari 400 orang guru dan 90-an kelas harus diatur jadwal pelajaran dan pengajarnya. Sungguh, bukan pekerjaan ringan. Belum lagi, jumlah guru seringkali berubah-ubah secara mendadak, atau alokasi waktu setiap semester pun tidak sama. Kecuali itu, ada guru yang minta supaya diberi jatah mengajar mata pelajaran tertentu untuk tujuan tertentu, untuk hari tertentu pula. Wah, sangat melelahkan. Seiring dengan penyusunan jadwal adalah juga pembagian tugas guru. Maklum, tugas guru di pondok sangat banyak. Secara garis besar, mereka adalah guru, mahasiswa, dan sekaligus pembantu pimpinan pondok. Sebagian di antara guru itu ada yang diamanahi menjadi wali kelas (Penentu wali kelas memang direktur, namun bahan baku tentang rekam jejak calon wali kelas adalah tanggung jawab staf KMI). Sementara, guru-guru yunior ditugasi menjadi piket kantor, piket asrama, piket kelas, serta piket di sejumlah tempat strategis. Itupun yang mengatur juga para staf KMI. Syukur, mereka yang diatur taat, karena melihat yang mengatur pun tanpa pamrih. Tugas-tugas itu, dalam seminggu sekali, akan dievaluasi bersama sejumlah guru senior, sebagai bekal memajukan langkah KMI ke depan.

Pada masa ujian pertengahan tahun dan akhir tahun, pekerjaan para staf KMI itu tidak surut, namun justru ada pada puncak kesibukannya. Meskipun telah ditunjuk panitia ujian oleh Pimpinan Pondok dan Direktur KMI, kesibukan mereka tetap tinggi, yakni pendampingan. Mustahil panitia ujian itu akan bekerja sendiri. Setelah tugasnya berakhir, tak urung, para staf itu pula yang akan menyelesaikan tugas berikutnya. Mereka harus mempersiapkan data-data prestasi siswa untuk disampaikan kepada Direktur KMI sebagai bekal mengambil kebijakan, ke pondok cabang mana saja para siswa akan dipindah setelah pertengahan tahun itu atau setelah kenaikan kelas.

Libur pun tiba. Namun, para direktur itu tak beranjak dari pondok. Dalam masa libur panjang bulan Ramadhan itu, justru pekerjaan mereka menggunung. Setelah para panitia ujian merampungkan tugasnya, bersama para wali kelas, mereka, para direktur itu akan mengolah data untuk diajukan kepada Direktur KMI dan Pimpinan Pondok, untuk mengambil kebijakan; mana siswa yang naik dan tetap di Gontor dan mana siswa yang tidak naik dan harus pindah ke pondok cabang. Pekerjaan ini membutuhkan kecermatan, ketelitian, dan ketelatenan yang tinggi. Tak ketinggalan, kesungguhan dan keikhlasan juga.

Itulah real Pricipal. Yang senyatanya direktur di KMI. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui dan sangat hapal dan rinci akan tugas rutinnya; bekerja tanpa komando, melainkan kesadaran dan keikhlasan yang tinggi. Mereka adalah nyawa sesungguhnya dari KMI. Kematian atau pergantian direktur bukan masalah bagi KMI, karena sistem telah berjalan dengan baik, dan para staf itu pun mampu mengantisipasi keadaan dengan baik pula. Sebaliknya, KMI akan timpang alaang kepalang jika tanpa para staf itu, meskipun ada seorang direktur.

Pertanyaan pun muncul, apa fasilitas yang mereka dapatkan? Kesejahteraan atau imbalan maksud jelasnya? Jelas tidak ada. Untuk ini, K.H. Imam Zarkasyi, setiap kali berpidato setelah selesainya ujian (awal dan akhir tahun), selalu mengajak bersyukur dan berterima kasih. Bersyukur karena ujian telah selesai, dan para siswa KMI telah bersiap diri dengan belajar, sehingga ilmunya bertambah. Berterima kasih yang ditujukan kepada guru-guru panitia karena para guru itu telah bekerja keras melayani para santri, membuat soal, mencetak, dan membaginya, mengawasi ujian, hingga mengoreksi. Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan. Apa bayarannya? Tidak ada. Hanya sepotong kue kecil dan segelas minuman. Itu saja. Kalau benar-benar dihitung dengan uang, berapa mereka harus digaji? Itulah, kita bersyukur dan berterima kasih. Di sini keikhlasan masih bisa dipegang dengan baik, demikian K.H. Imam Zarkasyi mengingatkan.

Ya, ini adalah Pondok Modern Darussalam Gontor, yang meletakkan keikhlasan sebagai nyawa penggerak inisiatif dan aktivitas pondok secara keseluruhan. Kalaupun ada imbalan bagi para staf KMI itu, di antaranya adalah kemudahan dalam menggunakan komputer, bebas membuat minuman teh, kopi, susu, dsb., Jika ada rapat guru, mereka pun akan mendapat bagian makanan kecil yang mereka siapkan sendiri. Bayangkan, atau tepatnya tanyakan, berapa gaji orang seperti itu jika di luar? Subhanallah. Yang ada, di pondok luar Gontor, jika guru ikut rapat, meskipun tidak ikut berbicara pun sudah mendapat honor Rp 20000. Jika dia mampu menyusun program pembelajaran yang bermanfaat untuk pondok tersebut, tentu, honornya akan lebih besar. Akhirnya, yang terjadi, guru-guru akan berlomba membuat program agar disetujui, dijalankan, dan (tentu saja) menghasilkan uang. Tujuannya pun bukan untuk menghidupkan pondok, melainkan mencari hidup dari pondok.

Para staf itu boleh dikata sama sekali tidak digaji. Keikhlasannya yang tinggi menimbulkan kecintaannya pada tugas. Dalam benak mereka, suara lonceng, teriakan murid yang tengah menirukan guru, berlalu-lalangnya siswa ketika berangkat ke kelas, waktu istirahat, atau saat pulang usai pelajaran merupakan gambar hidup yang sangat nikmat untuk dilihat, setiap hari. Mereka sudah ketularan perasaan guru, yang tak pernah bosan melihat muridnya. Kalau sudah begitu, gaji, sama sekali, bukan tujuan. Kenikmatan menjadi guru itu sudah merupakan imbalan bagi mereka. Belum lagi, ilmu-ilmu yang otomatis didapat karena menjalankan tugas itu: ilmu mendidik, ilmu mengajar, ilmu mengatur sekolah, ilmu menyusun jadwal, dsb., sungguh menjadi imbalan yang sangat berharga. Betapa tidak, para staf yang juga mahasiswa itu, tidak semuanya kuliah di fakultas Tarbiyah, yang memang mempelajari seluk beluk pendidikan dan pengajaran, melainkan mahasiswa Fakultas Usuluddin dan Fakultas Syariâh. Jadi, setelah menyelesaikan pengabdiannya, para staf KMI yang sarjana fakultas Syariâh atau Usuluddin itu, kelak, akan menjadi ahli pendidikan secara otomatis. Pengetahuannya tentang pendidikan melebihi sarjana pendidikan di luar, karena telah mengalami praktik secara langsung, dan bertahun-tahun.

Itulah millieu Gontor, etos kerja yang telah puluhan tahun diterapkan dan diajarkan para pendirinya sejak awal mula pondok berdiri. Orang-orang yang terlibat di dalamnya pun menjadi tergerak dinamis, aktif, berinisiatif, dan bertanggung jawab. Semua itu secara otomatis akan menimbulkan kesadaran yang tinggi, kesadaran mengemban tanggung jawab masing-masing, dengan pengabdian total; hal yang tidak mudah ditiru dari Gontor. Apalagi, jika orang yang akan meniru tidak pernah sekolah di KMI atau belum tamat KMI. Banyak hal yang tidak mungkin dipahami, terutama ruh-ruh dan filosofi yang mampu menggerakkan kesadaran individu-individunya.

Karena itu, lembaga pendidikan yang sebelumnya telah memiliki sistem yang berbeda dengan sistem Gontor, kemudian akan diubah menjadi sistem Gontor, boleh dikata, mustahil. Mengubah kebiasaan bukan sesuatu yang mudah, apalagi jika kebiasaan itu terkait dengan pola pikir, gaya hidup, dan keyakinan. Terlebih lagi, jika pengambil kebijakan utama bukan alumni atau alumni yang tidak tamat, atau alumni yang tidak pernah merasakan menjadi guru di Gontor. Bagaimana mungkin memberi contoh, jika menjadi contoh saja belum mampu?

Maka, sebaiknya jika akan meniru secara kaaffah, alumni yang tamat KMI merintis pondok sendiri dengan sistem yang diyakini, agar menjalankannya enak, mudah, dan semeleh.

Buyut Makkah, Nopember 2009

Antara Kesenangan, Kenikmatan & Kebahagiaan

3  Kata Kunci Kehidupan

Ada tiga tingkatan kebahagiaan manusia. Yang pertama adalah kesenangan. Yang kedua, kenikmatan. Dan yang ketiga, kebahagiaan. ’Kesenangan’ bersifat materi. ’Kenikmatan’ terkait dengan menata hati. Dan ’kebahagiaan’ adalah perasaan nikmat yang terus menerus kita alami….

Contoh konkretnya begini. Jika kepada Anda diajukan sebuah pertanyaan: ’’SENANG manakah Anda, mobil yang berharga Rp 100 juta dengan mobil yang berharga Rp 1 miliar?’’ Maka, hampir bisa dipastikan jawaban Anda akan seragam, yakni menyenangi mobil yang berharga Rp 1 miliar. Karena, ia ’menjanjikan’ kenikmatan yang sudah Anda bayangkan.

Tetapi, ketika mobil itu sudah Anda miliki, dan kemudian pertanyaannya diganti begini: ’’NIKMAT manakah naik mobil yang Rp 100 juta ataukah yang Rp 1 miliar?’’ Tiba-tiba jawaban Anda berbeda-beda. Ada yang masih menjawab: ’’nikmat yang Rp 1 miliar’’. Tetapi, ada pula yang menjawab: ’’nikmat yang Rp 100 juta, karena tidak punya hutang kredit mobil’’. Ada pula yang memberikan jawaban: ’’bergantung…’’.

Cobalah perhatikan, ketika ditanya tentang ’kesenangan’ jawabannya seragam, seiring dengan ’kualitas materi’ yang ditawarkan. Tetapi, ketika ditanya tentang ’kenikmatan’, jawabannya beraneka ragam seiring dengan ’kualitas hati’ masing-masing. Ya kesenangan bersifat obyektif, sedangkan kenikmatan bersifat subyektif.

Anda pasti bisa membayangkan, betapa ’tersiksanya’ orang yang baru memiliki mobil seharga Rp 1 miliar. Tiap hari dia kepikiran terus. Mau parkir di tempat sembarangan ragu-ragu, takut ada anak-anak yang main corat-coret di bodi mobil. Mau bepergian ke tempat ramai tidak berani, takut kebaret atau terserempet. Mau mengajak anak-anak atau keponakan, takut jok mobilnya kotor. Dan seterusnya. Orang yang demikian berhasil memeroleh kesenangan, tetapi gagal memeroleh kenikmatan. Sementara, orang yang naik mobil lebih murah, hatinya tenang-tenang saja dalam mengendarai mobilnya. Dan bisa menikmatinya dengan tanpa beban.

Pertanyaan senada, bisa kita ajukan dengan obyek yang berbeda. Misalnya, ditanyakan kepada Anda: lebih SENANG manakah punya istri yang cantik ataukah yang sedang-sedang saja? Jawabannya, kurang lebih seragam: pilih yang cantik. Tetapi, ketika pertanyaannya diganti: lebih NIKMAT manakah punya istri yang cantik ataukah sedang-sedang saja, jawabannya bisa: bergantung…! Kalau punya istri cantik tapi menjengkelkan dan bikin masalah terus, ya lebih baik yang sedang-sedang saja tapi menentramkan…🙂

Pertanyaan lain lagi: lebih SENANG manakah Anda, makan di hotel bintang lima atau di kaki lima? Barangkali jawabannya cenderung seragam lagi, yakni: bintang lima. Tetapi, ketika ditanya soal kenikmatan jawabannya pasti beragam. Sangat boleh jadi, banyak diantara kita yang lantas mengatakan: lebih NIKMAT di kaki lima..!

Maka, jangan keliru memilih ’kesenangan’. Yang harus dipilih adalah KENIKMATAN. Kesenangan bisa cepat hilang seiring dengan rusaknya materi, sedangkan ’kenikmatan’ akan bertahan lama seiring dengan bagaimana Anda menyikapi. Al Qur’an sendiri menyebut ’kesenangan’ sebagai ’tipuan’. Dan menyebut ’kenikmatan’ sebagai suatu ’anugerah’.

QS. Al Hadiid (57): 20

…dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

QS. Ash Shaaffaat (47): 148

Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.

’Kesenangan’ bagaikan fatamorgana yang tidak akan pernah terpuaskan. Karena yang berada di balik kesenangan adalah hawa nafsu. Dan Allah menegaskan bahwa hawa nafsu tidak akan pernah terpuaskan, meskipun seluruh langit dan bumi rusak semua dikarenakan olehnya.

QS. Al Mukminuun (23): 71

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya…

Sementara itu, yang berada di balik kenikmatan adalah ‘keimanan’, sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas. Maka, yang diajarkan agama bukanlah mencari kesenangan, melainkan memperoleh kenikmatan. Itulah yang kita baca setiap hari di dalam shalat: ’’ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ’alaihim ~ ’’tunjukilah kami jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat…’’

Kenikmatan bukan untuk dikejar, melainkan untuk diterima sebagai anugerah. Semakin dikejar, ia semakin menjauh. Karena, sebenarnya kenikmatan bukanlah ’tujuan’, melainkan reward alias ’hadiah’. Ia adalah pemberian Allah kepada orang-orang yang bisa ’menata’ hatinya. Bukan kepada orang-orang yang ’meliarkan’ hatinya.

Karena itu, yang diajarkan Allah kepada kita bukanlah meminta kenikmatan melainkan memohon ditunjuki ’jalan yang lurus’ ~ shirathal mustaqim. Kalau sudah berada di jalan yang lurus, insya Allah kenikmatan akan datang sendiri sebagai anugerah. Ia hanya dampak saja dari sesuatu yang kita lakukan, sesuai dengan fitrah keilahian yang ada di dalam diri kita. Kenikmatan bukan bergantung kepada benda, melainkan kepada proses. Cara beragama yang baiklah yang bakal melahirkan kenikmatan, bukan sekedar hasilnya.

Ketika cara-cara beragama sudah dilakukan secara benar dan substansial, kenikmatan akan berdatangan dengan sendirinya. Nah, kenikmatan yang datang terus menerus itulah yang akan melahirkan kebahagiaan. Bangun tidur nikmat, mandi nikmat, sarapan pagi nikmat, bekerja nikmat, bertemu sahabat-sahabat nikmat, ibadah-ibadahnya nikmat, dan seterusnya sampai tidur kembali nikmat. Itulah orang yang hidupnya bahagia. Dan itu sangat terkait dengan cara serta kemampuan kita dalam menata hati, bukan sekedar keberhasilan memperoleh materi.

Sebaliknya, ada orang yang hidupnya penuh dengan ’penderitaan’ karena tidak bisa menata hati. Bangun tidur mengeluh, masuk kamar mandi mengomel, sarapan pagi memprotes, ketemu jalanan macet mengumpat, bekerja merasa tertekan, beribadah karena terpaksa, ketemu kawan bertengkar, dan seterusnya dan sebagainya, sampai tidur kembali hidupnya penuh dengan masalah. Jika ditambah lagi dengan keserakahan, kompletlah hidup orang itu dengan penderitaan…😦

Lantas, bagaimanakah cara praktis memeroleh kebahagiaan itu..?

Ternyata kebahagiaan hanyalah milik orang-orang yang bisa menjalani hidupnya dengan akhlak tinggi.

Wallahu a’lam bishshawab

Menggunakan Facebook Dengan Bijak

Cara Menyikapi Masalah

“Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah, tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah”

Kutipan di atas saya copas dari status Facebook salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman Facebook. Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding Facebook digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidak ikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis.

Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita publish ke depan facebooker mania. Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegundahan. Kemudian biasanya status yang luar biasa di laman Facebook  akan  memunculkan komen-komen luar biasa lainya. Kalau begitu bukankah pahala akan mengalir kepada si peng-update status itu? Karena dia telah mencerahkan yang sedang gundah,memberi solusi yang sedang dirundung masalah.Jika ini yang terjadi, maka satu sisi fositif  laman “muka buku” ini telah dirasakan, dan kita telah menanam satu kebajikan.

Jika sebalik-Nya yang kita lakukan, yakni meng-update status-status yang berisi keluhan, emosi, cacian dan lain sebagainya. Apakah itu tidak menimbulkan satu dosa bagi kita sendiri. Karena kita sangat dilarang berkeluh kesah akan masalah atau takdir yang kita jalani. Kemudian jika ada teman yang memberikan jempol manis-nya akan status yang berisi keluh kesah itu, apakah dia tidak dikatakan melakukan sebuah keburukan karena seolah teman kita itu merasa setuju dengan apa yang kita update(keluh kesah kita).Jika itu yang terjadi berarti kita telah menanam satu keburukan bagi diri sendiri bahkan orang lain.

Jujur saya sangat tidak suka ketika membaca status-status teman saya yang berisi keluh kesah, sumpah serapah, atau cacian atas apa yang sedang mereka rasakan saat meng-update status-status mereka tersebut. Apalagi kalau saya tau mereka adalah teman-teman saya yang sama-sama telah mengenyam pendidikan pesantren yang diajarkan bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi sebuah masalah. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran darinya atas apa yang telah kita lakukan sebelum-Nya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita.

Masalah datang agar kita bisa mengigat dan kembali ke Hadirat yang maha kuasa yakni jalan yang penuh berkah. Masalah bukan untuk kita hindari atau lari dari masalah, tapi masalah datang untuk kita hadapi dengan sabar dan kembali dengan tunduk dan pasrah. Saat kita tertimpa musibah, sesungguhnya Allah sedang dekat sama kita dan ingin agar kita selalu ingat kepada Nya.

Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. al-Insyiroh: 5-6)

Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.

Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.

Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.

Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”

Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan brilian, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan sang eksekutor yang Maha Adil setelah tawakal dilakukan. Mari bersama taklukkan masalah…!!!

by : Pondok Pesantren Nurul Ilmi

Program Unggulan : One Class One TV Plasma

Multimedia Dalam Dunia Pendidikan

Nurul Ilmi

Serang/nurul-ilmi.com. Penggunaan multimedia dalam dunia pendidikan merupakan inovasi demi tercapainya suasana pendidikan yang lebih kondusif dan menyenangkan. Hal ini menjadi sebuah kebutuhan Lembaga Pendidikan saat ini ketika para siswa/santri dihadapkan pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Dalam setiap hari terdapat berbagai macam inovasi dan kreasi baru di Bidang Teknologi, bahkan dalam setiap bulan hadir hardware dan gadget baru pula. Ini tentunya merupakan tantangan dunia pendidikan untuk dapat mengembangkan system pendidikannya sehingga mampu  mengimbangi perkembangan yang ada.

Dunia pendidikan sejatinya merupakan tempat yang sangat baik dalam mendayagunakan perkembangan teknologi secara arif dan bijaksana. Sehingga orientasi pengembangan teknologi yang ada bukannya hanya sebatas pada pengembangan teknologi yang ditujukan untuk entertainment (hiburan) saja. Melainkan lebih dari itu pengembangan teknologi yang ada seharusnya lebih menitik beratkan pada penggunaan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik bagi manusia (technology for better live). Miliu pendidikan yang sengaja diciptakan untuk membangun fisik, mental dan jiwa anak didik bagi terciptanya manusia yang cerdas, terampil, kuat dan bijaksana tentunya menjadi daya dukung yang luar biasa untuk itu.

 

 by : Pondok Pesantren Nurul Ilmi

7 Pahala Yang Dapat Dinikmati Selepas Mati

Dari Anas r.a. berkata bahawa ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya.

  1. Sesiapa yang mendirikan masjid maka ia tetap pahalanya selagi masjid itu digunakan oleh orang untuk beramal ibadat di dalamnya.
  2. Sesiapa yang mengalirkan air sungai selagi ada orang yang minum daripadanya.
  3. Sesiapa yang menulis mushaf ia akan mendapat pahala selagi ada orang yang membacanya.
  4. Orang yang menggali perigi selagi ada orang yang menggunakannya.
  5. Sesiapa yang menanam tanam-tanaman selagi ada yang memakannya baik dari manusia atau burung.
  6. Mereka yang mengajarkan ilmu yang berguna selama ia diamalkan oleh orang yang mempelajarinya.
  7. Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mana ianya selalu mendoakan kedua orang tuanya dan beristighfar baginya yakni anak yang selalu diajari ilmu Al-Qur’an maka orang yang mengajarnya akan mendapat pahala selagi anak itu mengamalkan ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri.

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. telah bersabda : “Apabila telah mati anak Adam itu, maka terhentilah amalnya melainkan tiga macam :

  1. Sedekah yang berjalan terus (Sedekah Amal Jariah)
  2. Ilmu yang berguna dan diamalkan.
  3. Anak yang soleh yang mendoakan baik baginya.

Mengapa Memilih Pendidikan Pesantren

Hakekat Pendidikan

Serang/nurul-ilmi.com. Pendidikan adalah kebutuhan setiap individu untuk mampu meningkatkan kemampuan dan kompetensinya dalam bidang tertentu. Lebih luas dari pada itu, pendidikan adalah sarana untuk membangun generasi yang unggul dan mempunyai mentalitas yang baik. Bahkan pendidikan juga mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin di masa yang akan datang. Banyak model pendidikan yang berkembang saat ini. Tentunya dengan karakteristik yang beragam pula. Namun dari sekian ragam pendidikan yang ada, sebenarnya mempunyai tujuan yang hampir sama yaitu menyiapkan generasi yang akan datang untuk dapat hidup dan membawa maslahat bagi alam dan makhluk sekitarnya. Sebagaimana Saiyidina Ali berkata Al-insanu ibnu zamanihi, Manusia adalah anak dari zamannya masing-masing. Maka kita harus menyiapkan mereka untuk hidup di zamannya masing-masing dengan nilai-nilai yang kita yakini ingin kita tanamkan dalam diri dan jiwa mereka yaitu nilai islam.

Model Pendidikan Pesantren

Nurul Ilmi

Pesantren sejak awal telah meletakkan dasar-dasar pendidikannya untuk membangun nilai-nilai kehidupan sebagai bekal santri-santrinya. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk Panca Jiwa, yaitu : Keikhlasan, Kesederhanaan, Kemandirian, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan.

Keikhlasan dalam bahasa pesantren diartikan sebagai sikap ikhlas dididik dan mendidik, ikhlas diajar dan mengajar. Pendidikan sendiri memiliki arti yang lebih luas dalam pandangan pesantren, yaitu, semua bentuk usaha yang dilakukan dan dikondisikan untuk membuat kesan baik di hati dan diri santri-santrinya untuk membantu mereka dalam tumbuh kembangnya fisik, akal, jiwa dan akhlaknya.

Kesederhanaan sendiri diartikan sebagai sebuah sikap yang selalu bisa mengambil manfaat dan maslahat dari apa yang diberikan Allah SWT kepada kita. Sehingga apapun yang ada di pesantren mampu didayagunakan dengan maksimal untuk kemaslahatan bersama.

Kemandirian diartikan dalam istilah sederhana self berdruiping system, yang memiliki makna bahwa segala sesuatunya adalah dari kita oleh kita dan untuk kita. Pesantren bertugas untuk mensuport santri dalam bentuk fasilitasi materiil maupun non materiil sehingga mereka mampu bergerak dan berkreasi menuju hidup yang mandiri.

Ukhuwah Islamiyah diartikan sebagai kebersamaan dalam kebaikan, bukan kebersamaan di jalan yang Allah tidak ridhoi.

Kebebasan yang menjadi nilai Panca Jiwa pesantrenpun juga jangan disalah artikan, karena kebebasan ini diartikan sebagai suatu bentuk penyediaan ruang berkreasi dan bergerak dalam koridor kemaslahatan dan kebaikan dengan terus memegang ajaran Islam.

Peran Pendidikan Pesantren

Nurul Ilmi

Pesantren sudah memulai kiprahnya selama ratusan tahun. Bahkan pesantren sendiri merupakan pendidikan khas Indonesia yang tidak didapat di tempat lain. Pesantren juga diyakini sebagai benteng akhlak di tengah carut-marut system pendidikan yang tak kunjung menemukan jati dirinya. Pesantren juga merupakan kawah candradimuka tempat digodognya calon-calon kader pemimpin dan penyeru di jalan kebenaran.

Di era sekarang ini fungsi pesantren justru semakin terlihat jelas. Ketika banyak institusi pendidikan menyerah pada terjangan arus negative globalisasi, pesantren mampu tampil di garda terdepan dalam membendungnya. Tidak heran jika para orang tua saat ini lebih meyakini pendidikan model pesantren sebagai model pendidikan ideal bagi putra-putrinya karena pesantren memang telah berhasil melaksanakan tugas institusi pendidikan dalam membina dan mendidik santri-santrinya.

Peran pesantren juga menjadi semakin mencolok ketika para alumni pesantren saat ini bergerak di segala bidang kehidupan dengan membawa pesan-pesan moral dan nilai-nilai kemanusiaan kebaikan dan keteguhan pada iman. Tak ayal kita melihat alumni pesantren terjun di organisasi masyarakat terbesar di Indonesia seperti KH. Hasyim Muzadi dan Dien Syamsuddin. Alumni Pesantren juga terjun di ranah politik dengan menunjukkan etika politik yang bermoral dan bernurani seperti DR. Hidayat Nur Wahid. Bahkan alumni pesantren juga terjun sebagai jurnalis dan pengarang Novel best seller seperti Ahmad Fuadi. Hal ini tentunya semakin meruntuhkan anggapan dahulu bahwa alumni pesantren tidak bisa berbuat banyak.

Nurul Ilmi

Mengapa memilih Pendidikan Pesantren

Sudah menjadi bahan perdebatan bertahun-tahun para ahli pendidikan tentang bagaimana membuat formulasi system pendidikan yang mampu membangun akal, jiwa sekaligus akhlaq dan spiritual anak didik. Hal ini menjadi masalah serius ketika fenomena system pendidikan saat ini dalam kenyataannya tidak mampu menjawab masalah itu. Namun pesantren dengan keyakinannya pada system pedidikan yang telah diformulasikan sedemikian rupa dengan uji coba tidak hanya 1 tahun atau 2 tahun mampu menjawab segala problema pendidikan yang dihadapi saat ini tanpa banyak berdebat. Pesantren bergerak dan terus bergerak membangun sebuah system pendidikan yang total sebagai miniatur kehidupan yang nyata sehingga mampu menyiapkan santri-santrinya untuk hidup dan menghidupkan, untuk bergerak dan menggerakkan. Jadi, mengapa kita tidak memilih pesantren sebagai tempat pendidikan untuk putra-putri kita?

Kenapa Kita Harus Berzikir?

Manfaat Berdzikir

‘’Ingatlah  Allah, hanya dengan  mengingat  Allah  hati  menjadi  tentram.’’(QS. Ar-ra’ad:28)

 Nabi  Musa  bertanya  kepada  Tuhannya, ‘Wahai  Tuhanku, (katakan) apakah  Engkau  dekat  denganku   sehingga  aku  harus  brdoa kepada Engkau  dengan  bisikan  atau  engkau  jauh  sehingga  aku harus  bersuara  keras  menyeru-Mu? ‘Kemudian  Allah  mewahyukan  kepadanya, ‘Wahai  Musa! Aku  bersama  yang  mengingat-Ku.’ Musa  berkata, siapakah  mereka  yang  akan  Engkau  lindungi  pada  hari  ketika  tidak akan  ada perlindungan  kecuali  perlindungan-Mu? Dia  menjawab , ‘ mereka  yang  mengingatku , dan Aku mengingat  mereka ; mereka  yang  saling  mencintai  demi  Aku, dan  Aku mencintai  mereka. Mereka  adalah  orang-orang  yang  kuingat   saat  Aku  hendak  menimpakkan  musibah  atas  penduduk  bumi  sehingga  musibah  terhindarkan  dari  penduduk  bumi karena  mereka.(Al- hadits)

Apa  itu zikir, kenapa  kita  harus  berdzikir? karena  berzikir bisa  dimaknai  mengingat  juga, maka apakah  yang harus diingat? Ketiga pertanyaan  diatas yang coba kita jawab, tetapi  penulis  perlu memaparkan  pendahuluan  singkat  untuk  mengawali pembahasan ini.Dalam  perjalanan hidupnya    sejak   dahulu  kala, manusia hidup  berdampingan  dengan  alam sekitarnya dia  berinteraksi dengan berbagai  macam  makhluk hidup  yang  ada  di dunia ini, namun  terjadi peristiwa-peristiwa  yang  dia  tak  mampu  untuk menundukan  dan  mengendalikannya   sehingga  timbullah  dalam  hatinya rasa takut, gelisah, tidak tenang atau dalam  istilah remaja  sekarang  hatinya  selalu  diliputi kegalauan yang selalu  merongrong  hatinya. Di zaman sekarang  yang dikenal  dengan  zaman sains dan  teknologi pun  demikian, dimana  muncul  manusia-manusia  yang memuja sains hingga muncul  pula slogan bahwa ‘’Dengan  sains  kita  bisa memperoleh kebahagiaan  dan  ketenangan’’. Nietzsche pun  mengataakan:  ‘’Tuhan  sudah   mati! Kita  telah  membunuhnya’’.1  Namun  sejarah membuktikan bahwa kata-kata mereka adalah omong  kosong  belaka.Hingga manusia  menyadari  bahwa dia  adalah  makhluk  yang  kecil, lemah, dan serba  kekurangan. tidak  mampu  mendatangkan  manfaat  bagi  dirinya  sendiri  dan menepis  bahaya  dari  hidupnya.Tidak  diragukan lagi bahwa  manusia  dalam  mengarungi  kehidupannya, selalu  merindukan  dan  mendambakan  suatu  kekuatan  absolute, tidak  terbatas. Dzat yang memiliki  keindahan , kesucian dan kesempurnaan  yang mutlak, yang  dengan  cara mengingat dan menyebut-nyebut-Nya membawa  pada  ketentraman  hati  dan ketenangan  pikiran

Apa  itu  dzikir?

Dzikir yang  penulis maksud adalah suatu  kegiatan  mengingat  dzat yang  maha sempurna melalui  pengucapan  kalimat-kalimat  tayyibah dan hati  senantiasa  fokus  dan  konsentrasi  tehadapnya. penulis  ingin mengutip  pengertian  zikir menurut para  ulama:

Raghib Isfahani  menyebutkan  dua  makna zikir. Ia mengatakan: ‘’Dzikir  terkadang  bermakna  kemampuan  manusia  untukk menjaga  pengetahuan  yang  telah  ia  peroleh (baca: mampu  mengingatnya). Terkadang  pula  bermakna   hadirnya  sesutu  makna  dalam  hati atau  sesuatu  perkataan  secara  lisan.2

Allamah  majilisi berpendapat, ‘’Zikir  adalah  hadirnya  makna dalam  diri  manusia.3

Berkaitan  dengan  pengrtian  dzikir yang  telah  saya  kutip  diatas, dzikir  terbagi  menjadi  dua  bagian: Pertama,  dzikir  lisani atau  verbal (mengingat dengan lisan),  dzikir verbal atau mengingat dengan  cara mengucapkan  kalimat-kalimat  tayyibah  adalah  tingkatan  dzikir  yang  paling  rendah dalam  artian kalimat-kalimat  yang  diucapkan  tidak bernilai  lebih  kalau  tidak  disertai  dengan  perhatian  dan  konsentrasi  hati. Maka  dzikir  berjalan  dengan  baik jika  lisan  dan  hati berjalan  seirama.  Kedua, dzikir  qalbi  adalah  hati seseorang  senantiasa mengingat  Tuhannya. Dzikir  ini  tidak  terlihat misalnya  kita  sering melihat  ada orang  sibuk  bekerja namun di dalam  hatinya dia  selalu  berkonsentrasi  kepada Tuhan.  Allah SWT berfirman:

Ingatlah  Tuhan-Mu  dalam  jiwamu, dengan  rendah hati  dan takut, bukan  dengan  suara  keras,  pada pagi  dan  petang  hari. (QS. Al- a’raf: 205)

 

Dalam  ayat  mulia  diatas diisyaratkan  tentang  keutamaan dzikir hati, tetapi  dalam  beberapa  keadaan, yang  lebih  disukai  adalah  dzikir  dengan  bersuara  keras,  seperti  dzikir  di depan  orang  yang  lalai demi  mengingatkannya.4

Kenapa  kita  harus  berzdikir?

Sebenarnya  pertanyaan  kedua  dan  ketiga  ini  sudah  terjawab  ketika  pembaca  membaca  pendahuluan  tulisan  ini. Penulis  hanya  ingin  menjelaskannya  kembali   dengan  harapan  maknanya  bisa  lebih  tertanam  dalam  setiap  benak  pembaca.  Manusia  adalah  makluk  yang  telah di anugerahi  potensi  yang sangat  luar biasa, dengan  potensi  yang  ada dia  memiliki  kemampuan  yang  hampir  tidak  terbatas .  Al-qur’an  pun  mengabarkan  tentang  itu. Al-qur’an  menyebut  manusia  sebagai  ‘’Khalifatullah Fill Ard’’, manusia  diberi  wewenang  oleh  Allah  dengan  kebebasannya untuk  mengurus  dan  mengelola  bumi  sesuai  dengan  undang-undang  Ilahi.  Penulis  telah  menyebut  bahwa  manusia  memiliki  kemampuan  yang  hampir  tidak  terbatas. Namun,  dengan  kekutan pengetahuan  manusia  menyadari  bahwa  ternyata  dia  adalah  makhluk  lemah  yang  tidak  mampu  mendatangkan  manfaat  dan  menepis  bahaya  dari  hidupnya. Kesadaran  akan  ketakmampuan  dan  ketakberdayaan  itulah  yang  merangsang   akalnya   untuk  berkelana  mencari  kekuatan  yang  bisa mengendalikan  hal-hal  yang berada  diluar  orbit  pengendaliannya. Setelah  menemukan  apa  yang  dicarinya  ia menjadikan  kekuatan (baca:Tuhan) itu  sebagai  pelindung, tempat  bergantung, sembahan  yang  dipujanya  setiap  waktu. Dengan  demikian  manusia  membutuhkan  Tuhan  sebagai  sebaik-baiknya tempat  kebali  yang  selalu  diingan-ingat, disebut-sebut  namanya  hingga dia  memperoleh  apa  yang  diinginkannya  yaitu  ketentraman  hati  dan  ketenangan  pikiran.  Di akhir  tulisan  ini  penulis  ingin mengutip rumus  kebahagiaan  menurut  Murthadda  Muthahhari  seorang  ulama  dan  filosof kontemporer  Republik Islam  Iran, beliau Mengatakan:

’Rumus  kebahagiaan  adalah  kepuasan  dan  ketenangan’’.5

 

____________________________________

1. St.  sunardi. Nietzsche. Hal 35

2. M. Taqi Mishbah  Yazdi. Cinta berdzikir. Hal 2-3.

3.  Ibid.

4. Ruhullah khomeini. 40 hadits imam khomeini bab dzikir hal. 348.

5. Murthadda  Muthahhari. Ceramah-ceramah  muthahhari  tentang  pendidikan.

 

by : Pondok Pesantren Nurul Ilmi